Unbox.id – Penggunaan smartwatch kini tidak lagi sebatas menghitung langkah atau memantau detak jantung. Berkat dukungan sensor yang semakin canggih dan kecerdasan buatan (AI), jam tangan pintar mulai mampu mengenali perubahan kondisi tubuh yang dapat menjadi tanda awal suatu penyakit.
Meski demikian, kemampuan tersebut bukan berarti smartwatch bisa menggantikan peran dokter dalam mendiagnosis penyakit.
Mengutip dari Endgadget (4/7/2026), berbagai smartwatch saat ini telah dibekali fitur untuk memantau kualitas tidur, suhu kulit, laju pernapasan, kadar oksigen dalam darah, hingga heart rate variability (HRV). Beberapa model juga dapat memberikan peringatan apabila terdeteksi tanda-tanda sleep apnea atau gangguan pernapasan saat tidur.
Fitur-fitur tersebut bekerja dengan mengamati perubahan pada tubuh pengguna dari waktu ke waktu. Jika ditemukan pola yang tidak biasa, smartwatch dapat memberikan notifikasi agar pengguna lebih waspada terhadap kondisi kesehatannya.
Salah satu fitur yang dinilai paling bermanfaat secara medis adalah deteksi atrial fibrillation (AFib), yaitu gangguan irama jantung yang dapat meningkatkan risiko stroke.
Dalam sebuah studi terhadap Apple Watch, sekitar 84 persen notifikasi denyut jantung tidak teratur berhasil dikonfirmasi sebagai kasus AFib. Hal ini membuat fitur tersebut menjadi salah satu kemampuan smartwatch yang dianggap cukup dapat diandalkan oleh tenaga medis.
Baca juga: Fitbit Air vs Whoop, Google Mulai Panaskan Pasar Wearable Kesehatan
Meski begitu, tidak semua data kesehatan dari smartwatch memiliki tingkat akurasi yang sama.
Sejumlah metrik seperti estimasi tekanan darah, jumlah kalori yang terbakar, analisis detail fase tidur, hingga perkiraan VO2 Max masih belum dianggap cukup akurat untuk dijadikan dasar diagnosis atau pengambilan keputusan medis.
Dokter juga menilai hasil pengukuran tunggal belum tentu menunjukkan adanya penyakit. Misalnya, peningkatan detak jantung saat beristirahat memang dapat menjadi tanda tubuh sedang melawan infeksi. Namun kondisi tersebut juga bisa dipicu oleh kurang tidur, kelelahan, atau konsumsi alkohol.
Karena itu, tenaga medis lebih memperhatikan tren perubahan kesehatan dalam jangka waktu tertentu dibandingkan satu hasil pengukuran saja.
Kemampuan smartwatch dalam mendeteksi tanda awal penyakit juga terus berkembang berkat kombinasi AI dan berbagai sensor kesehatan.
Alih-alih hanya melihat satu parameter, AI dapat menganalisis beberapa data sekaligus, seperti suhu kulit, detak jantung saat istirahat, dan pola pernapasan. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan kondisi normal atau baseline masing-masing pengguna untuk mengetahui apakah terdapat perubahan yang perlu diperhatikan.
Penelitian dari Texas A&M University dan Stanford University bahkan menunjukkan smartwatch berpotensi mendeteksi perubahan fisiologis akibat infeksi COVID-19 maupun influenza dalam hitungan jam setelah infeksi terjadi, bahkan sebelum gejala mulai dirasakan.
Peneliti memperkirakan deteksi lebih dini dapat membantu pengguna segera melakukan tes, menjalani pengobatan, atau membatasi interaksi sehingga berpotensi mengurangi penyebaran penyakit.
Sejumlah perusahaan teknologi juga mulai menghadirkan fitur AI untuk membantu pengguna memahami data kesehatan mereka. Google mengembangkan Health Coach yang didukung Gemini, sementara Oura dan Whoop menawarkan asisten AI yang memberikan ringkasan kondisi tubuh berdasarkan data dari berbagai sensor.
Di sisi lain, fitur seperti Apple Vitals maupun Oura Symptom Radar juga dirancang untuk menggabungkan berbagai indikator kesehatan sehingga pengguna dapat mengetahui lebih cepat apabila terjadi perubahan kondisi tubuh.
Meski AI membuat smartwatch semakin pintar membaca pola kesehatan, hasil analisis tersebut tetap tidak dapat menggantikan pemeriksaan medis.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi unbox.id.

