Connect with us

Hi, what are you looking for?

Tech News

Industri Selular Rapuh, Tarif Data jadi Kambing Hitam

Last updated on 6 Mei, 2026

Teknologi smartphone beberapa tahun belakangan berkembang amat pesat. Namun tentu perkembangan ini menuntut sesuatu yang besar juga seperti kebutuhan jaringan. Seperti kita tahu kehadiran jaringan 4G telah memberikan udara segar bagi kebutuhan pengguna smartphone. Sayangnya, kenaikan konsumsi data ternyata tidak dibarengi dengan menguatnya industri selular.

Tengok saja, hingga semester pertama 2018,  kinerja operator terus melorot. Bahkan sudah mengalami “negative growth” baik dari sisi pendapatan (-12,3%) dan juga EBITDA (-24,3%). Industri telekomunikasi Indonesia pun diproyeksi tumbuh negatif 6,4% pada 2018.

Penurunan ini sebenarnya terbilang cepat. Pasalnya, pada 2016, industri selular masih tumbuh sebesar 10%. Namun, rendahnya tarif data, tidak bisa mengimbangi turunnya layanan suara dan SMS. Layanan basic itu, semakin kurang diminati karena pelanggan beralih ke layanan OTT. Alhasil, pertumbuhan menciut menjadi 9% di akhir 2017.

Tumbuhnya konsumsi data masyarakat yang mengakses layanan OTT ini pun dianggap sebagai beban industri karena harga paket internet yang terlalu murah. Rendahnya tarif  data yang dibarengi dengan dampak dari kebijakan registrasi pra bayar,  dan kondisi ekonomi makro yang tak kondusif, seperti kurs rupiah yang masih tertekan terhadap dollar pun membuat operator menutup 2018 dengan kinerja yang kurang menggembirakan.

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mencatat, rata-rata penggunaan data pada 2014 hanya 0,3 giga byte (GB) per bulan. Angka itu tumbuh menjadi 3,5 GB per bulan pada 2018. Tahun ini, estimasi konsumsi data di Indonesia mencapai 4,8 GB dan meningkat terus menjadi 6 GB pada 2021. “Harga layanan data Indonesia yang termurah di dunia. Hanya sedikit di atas India,” ujar Ketua ATSI Ririek Adriansyah dalam acara Selular Business Forum di Balai Kartini, Jakarta, Kamis (17/1).

Padahal untuk memenuhi permintaan layanan data yang naik 3,5 kali lipat dalam lima tahun ke depan, dikatakan Ririk perlu tambahan modal. “Kami perlu investasi untuk menambah kapasitas,” ujar Ririek. Dalam kesempatan yang sama, Kristiono, Ketua Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) juga menyebutkan, bahwa harga layanan data di Indonesia justru menurun dari Rp 1 per kilobyte (kb) pada 2010 menjadi Rp 0,015 per kb pada 2018. “Penurunan harga mencapai 40% per Mega Byte (MB) inilah yang jadi masalahnya,” jelas Kristiono.

Sementara, menurut Kristiono, murahnya tarif layanan data ini  justru menguntungkan perusahaan digital yang penggunaan produknya lebih banyak menggunakan kuota data. “E-commerce tumbuh di tengah infrastrukturnya, yakni telekomunikasi yang menurun. Jadi seperti benalu saja,” katanya.

Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi unbox.id.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Juga

Tech Industry

Unbox.id – Layanan Internet 4G kini menjadi tulang punggung Internet di Indonesia dan di seluruh dunia. Meskipun layanan internet 5G tersedia, 4G masih digunakan...

Tech News

Last updated on 6 Mei, 2026 Net1 Indonesia, penyedia layanan mobile data broadband 4G LTE, mengumumkan penghargaan Tanda Kehormatan Satyalancana Pembangunan yang telah diterima Chief Executive Officer...

Tech News

Last updated on 6 Mei, 2026 Net1 Indonesia, penyedia layanan mobile data broadband 4G LTE, mengadakan aktivitas menarik #MauAda4Gdimana mulai dari 7 Mei hingga...

Tech News

Telkomsel 4G LTE tengah digencarkan untuk bisa merata dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia termasuk di kawasan Indonesia Timur. Penggunaan teknologi jaringan 4G  secara merata...