Unbox.id – Kalau kamu merasa baterai smartphone terbaru sudah jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu tetapi tetap harus diisi daya setiap malam, ternyata kamu tidak sendirian.
Mengutip laporan CNET (16/5/2026), sebanyak 58 persen pengguna smartphone mengaku tidak puas dengan daya tahan baterai perangkat mereka. Bahkan, masalah baterai menjadi alasan utama banyak orang untuk mempertimbangkan upgrade ponsel, mengalahkan faktor kamera, penyimpanan, maupun kualitas layar.
Padahal secara teknologi, baterai smartphone sebenarnya terus mengalami perkembangan.
Kebutuhan Daya Meningkat
Menurut Celina Mikolajczak, penasihat industri baterai yang diwawancarai CNET, baterai memang terus berkembang dari tahun ke tahun. Namun di saat yang sama, smartphone juga menjadi semakin haus daya.
Saat ini ponsel tidak hanya digunakan untuk telepon dan pesan singkat. Smartphone sudah berfungsi sebagai kamera utama, alat navigasi GPS, dompet digital, pusat hiburan, hingga perangkat AI yang aktif sepanjang hari.
Akibatnya, peningkatan kapasitas baterai sering kali langsung diimbangi oleh peningkatan kebutuhan daya perangkat.

Charge HP sehari berpa kali? (sumber: I’m Zion/Unsplash)
Baterai Silicon-Carbon Jadi Harapan Baru
Inovasi ini masih menggunakan dasar lithium-ion, tetapi mengganti anoda grafit dengan kombinasi silikon dan karbon. Hasilnya adalah kepadatan energi yang lebih tinggi sehingga produsen dapat memasang baterai berkapasitas lebih besar tanpa harus memperbesar ukuran perangkat.
Sejumlah merek asal China seperti Honor, Huawei, Oppo, dan OnePlus sudah mulai mengadopsi teknologi ini pada beberapa perangkat mereka.
OnePlus 15 bahkan disebut hadir dengan baterai berkapasitas 7.300 mAh berbasis silicon-carbon, jauh lebih besar dibanding kapasitas yang umum ditemui pada smartphone flagship saat ini.
Meski teknologi silicon-carbon mulai populer di China, perusahaan besar seperti Apple, Samsung, dan Google masih belum menggunakannya secara luas. Alasan utamanya adalah faktor keamanan dan skala produksi.
Perusahaan yang menjual ratusan juta perangkat setiap tahun harus memastikan teknologi baru benar-benar aman, stabil, dan konsisten sebelum diterapkan secara massal.
Samsung sendiri mengaku masih melakukan evaluasi terhadap teknologi silicon-carbon untuk memastikan pengalaman pengguna tetap sesuai standar perusahaan.
Baterai Masa Depan
Selain silicon-carbon, industri juga sedang mengembangkan berbagai teknologi baru seperti solid-state battery, lithium-sulfur, sodium-ion, hingga lithium-metal.
Namun sebagian besar teknologi tersebut masih menghadapi tantangan besar dalam hal biaya produksi, keamanan, dan manufaktur massal.
Karena itu, silicon-carbon diperkirakan menjadi langkah transisi paling realistis sebelum generasi baterai berikutnya benar-benar siap digunakan secara luas.
Kenapa Baterai Terasa Tidak Banyak Berubah?
Kemampuan baterai memang meningkat, tetapi penggunaan smartphone juga berubah drastis.
Layar yang lebih terang, refresh rate tinggi, kamera yang lebih canggih, konektivitas 5G, fitur AI, hingga kebiasaan menggunakan ponsel sepanjang hari membuat kebutuhan daya terus bertambah.
CNET bahkan mencatat rata-rata peningkatan daya tahan baterai smartphone dalam beberapa tahun terakhir hanya sekitar 1 hingga 2 persen setiap generasi perangkat. Angka tersebut menunjukkan teknologi lithium-ion mulai mendekati batas pengembangannya.
Karena itu, meski kapasitas baterai terus bertambah, banyak pengguna masih merasa perlu mengisi daya setiap hari.
Setidaknya untuk saat ini, baterai dua hari penuh masih belum menjadi standar bagi sebagian besar smartphone. Namun dengan semakin luasnya penggunaan teknologi silicon-carbon, jarak menuju target tersebut mungkin tidak lagi terlalu jauh.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi unbox.id.


























