Unbox.id – Perkembangan headset gaming dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pergeseran fungsi yang cukup jelas. Jika sebelumnya perangkat ini hanya difokuskan untuk kebutuhan in-game seperti mendengar langkah kaki atau efek suara, kini banyak produk mulai mengarah ke penggunaan yang lebih luas, termasuk konsumsi musik dan kebutuhan lintas perangkat.
Perubahan ini terlihat dari berbagai produk terbaru yang dirilis oleh Asus ROG, SteelSeries, hingga ATK Gear. Masing-masing membawa pendekatan berbeda, mulai dari peningkatan kualitas driver audio, sistem konektivitas multi-platform, hingga fitur perangkat lunak untuk pengaturan suara yang lebih detail.
Asus ROG Delta II

ROG Delta II (sumber: Mark Knapp/IGN Nordic)
Asus ROG Delta II hadir sebagai headset gaming wireless dengan fokus pada fleksibilitas lintas perangkat. Headset ini punya fitur tri-mode connectivity, yaitu Bluetooth, wireless 2.4GHz, dan mode kabel. Ini membuatnya bisa dipakai di PC, Mac, PlayStation, Xbox, hingga perangkat mobile tanpa perlu konfigurasi rumit.
ROG Delta II juga punya fitur DualFlow Audio, yang memungkinkan headset terhubung ke dua perangkat secara bersamaan. Kamu bisa tetap mendengar audio game di PC sambil menerima panggilan atau audio dari perangkat lain.
Untuk hardware, ROG Delta II menggunakan driver 50mm titanium-plated yang difokuskan pada kejernihan detail, terutama untuk audio kompetitif seperti langkah kaki dan directional sound.
Daya tahannya juga menjadi nilai jual utama. Headset ini diklaim mampu bertahan hingga sekitar 110 jam penggunaan (dengan RGB dimatikan), menjadikannya salah satu gaming headset wireless dengan baterai paling panjang di kelasnya.
Asus ROG Kithara

ROG Kithara (sumber: Tomshardware)
ROG Kithara menggunakan driver planar magnetic 100mm tuning ROG HiFiMAN, yang umumnya ditemukan pada headphone audiophile. Rentang frekuensinya sangat luas, mencapai 8Hz hingga 55kHz, jauh di atas standar headset gaming pada umumnya.
Desainnya juga menggunakan konsep open-back, yang membuat suara tidak terperangkap di dalam earcup. Hasilnya adalah soundstage yang lebih luas dan natural, terutama untuk game dengan banyak elemen ambience.
Namun pendekatan ini datang dengan konsekuensi. ROG Kithara tidak memiliki isolasi suara, sehingga suara luar tetap masuk dan kebocoran audio cukup tinggi. Artinya, perangkat ini memang ditujukan untuk penggunaan di ruang tenang.
Di sisi konektivitas, ROG Kithara justru sangat fleksibel, 4.4mm balanced, 3.5mm, 6.3mm, hingga USB-C adapter, sesuatu yang biasanya hanya ada di perangkat audio kelas high-end.
SteelSeries Arctis Nova Pro Omni

Arctis Nova Pro Omni (sumber: Rtings)
SteelSeries Arctis Nova Pro Omni bisa menjadi pusat pengelolaan audio melalui SteelSeries Wireless GameHub atau DAC yang disertakan dalam paket penjualan.
Karena itu headset ini dapat menghubungkan hingga empat sumber audio sekaligus, baik melalui koneksi kabel maupun nirkabel. Kamu dapat mengatur perpindahan perangkat, melakukan mixing audio, hingga menyesuaikan berbagai parameter suara langsung dari unit DAC tanpa harus membuka aplikasi di komputer.
SteelSeries juga membekali headset ini dengan dukungan kustomisasi yang cukup luas melalui aplikasi SteelSeries GG dan Sonar. Kamu dapat mengatur profil audio sesuai kebutuhan, baik untuk game kompetitif, hiburan, maupun komunikasi suara.
Untuk kebutuhan gaming, Arctis Nova Pro Omni menawarkan latensi rendah pada koneksi 2.4GHz dan kabel, sehingga sinkronisasi audio tetap terjaga saat bermain. SteelSeries juga mempertahankan sistem baterai ganda yang dapat ditukar, memungkinkan penggunaan lebih lama tanpa harus menunggu proses pengisian daya selesai.
Karakter suaranya mengusung tuning V-shaped dengan bass dan treble yang lebih menonjol. Pendekatan ini membuat efek ledakan, langkah kaki, dan berbagai petunjuk audio dalam game terdengar lebih jelas, meski sebagian pengguna mungkin perlu melakukan penyesuaian EQ untuk mendapatkan karakter suara yang lebih netral.
ATK Horizon

ATK Horizon (sumber: DisastrousTap6283/Reddit)
ATK Horizon masuk ke kategori berbeda karena berupa in-ear monitor (IEM). IEM ini menggunakan driver dynamic 10mm dengan fokus pada karakter suara yang seimbang antara bass dan detail.
Versi USB-C dari ATK Horizon sudah dilengkapi DSP (Digital Signal Processing) dan bisa dikustomisasi melalui software ATK Hub. Di sini kamu bisa mengatur EQ, sensitivitas mikrofon, hingga firmware update.
Fitur software ini menarik karena biasanya hanya ditemukan di headset gaming kelas menengah ke atas, bukan IEM murah. Ini menunjukkan pergeseran penting di pasar audio, di mana kontrol suara kini mulai menjadi fitur standar.
Karya yang dimuat ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi unbox.id.

